Menelusuri Dibalik Indahnya 'Rumah Alam Bakau' Siak

akurat logo
Lina Citra Rasmi
Rabu, 14 Februari 2018 18:38 WIB
Share
 
Menelusuri Dibalik Indahnya 'Rumah Alam Bakau' Siak
Pintu Masuk Ekowisata Mangrove Rawa Mekar Jaya. MEDIACENTER.RIAU.GO.ID

AKURAT.CO Rumah Alam Bakau merupakan ekowisata mangrove yang terletak di Desa Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Apit. Saat ini destinasi tersebut sudah ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar Kabupaten Siak, Riau.

Hamparan hutan bakau yang hijau dan luas memberikan suasana segar dan bisa menjadi tempat pelarian akhir pekan. Bagi pengunjung yang memiliki hobi memancing, di Rumah Alam Bakau juga ada spot (areal) memancing. Letaknya di tepian sungai rawa, dengan angin sepoi-sepoi ditambah suara kicauan burung dan monyet-monyet yang sesekali mendekat tanpa mengganggu menambah suasana mancing semakin seru.

Pengunjung yang sudah penat menjajaki kaki dan berkeliling memutari keindahan hutan bakau, bisa beristirahat di rumah pohon dan rumah hobbit. Sembari mengabadikannya dalam jepretan kamera dan smartphone dengan gaya andalan. Namun kalau kalian tidak terlalu berani ketinggian, menapaki tangga untuk sampai di rumah pohon di ketinggian tiga sampai enam meter, ada tiga rumah Hobbit menjadi pilihan.

Meskipun penampakan rumah Hobbit ini masih sederhana dengan bentuk setengah bundar beratapkan ilalang dan juga belum sekeren yang ada di Desa Hobbit, Selandia Baru sebagai lokasi syuting film Lord of The Rings, namun kehadirannya dipastikan mampu menghibur dengan hasil foto yang lucu duduk di rumah Hobbit yang tingginya hanya 50-75 sentimeter.

Tapi siapa sangka, hutan bakau yang kini sudah menjadi ekowisata tersebut 5-10 tahun lalu terlihat gersang dan rusak akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab karena tuntutan ekonomi tanpa memikirkan kerusakan yang timbul pada mangrove itu sendiri. Bertahun-tahun bakau terus ditebangi masyarakat untuk diambil kemudian dijual pada perusahaan, hingga marak penebangan ilegal.

Sutiono dan empat rekannya Sutrisno, Sugiono, Parno, dan Ajlin yang menjadi motor penggerak penghijauan kembali hutan mangrove yang sudah rusak tersebut. Misi konservasi untuk menyelamatkan mangrove ia cetuskan pada akhir 2013.

"Melihat kondisi hutan bakau yang sudah kritis, tergeraklah hati saya dan kawan-kawan untuk melakukan konservasi, dengan harapan mangrove bisa diselamatkan," kata lelaki 37 tahun yang lahir saat hari peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Bermodalkan pengalaman dan pengetahuan di Bina Cinta Alam Kabupaten Siak dari Sutarno, ia dan rekan-rekan pecinta alam lainnya menyuarakan pada masyarakat untuk tidak lagi menebang hutan bakau guna menyelamatkan tepian sungai dari abrasi dan kerusakan ekosistem. Pembabatan hutan bakau selain menyebabkan abrasi juga berakibat pada kerusakan ekosistem.

Padahal ekosistem yang hidup di hutan bakau berfungsi sebagai paru-paru dunia dan penyangga habitat di hutan tersebut.

"Kalau bukan kita siapa lagi yang bergerak," itulah moto Sutiono dan kawan-kawan dalam memulai. Dia katakan, awal mula penyelamatan hutan bakau dengan melakukan pembibitan sebanyak 1.500 batang yang ditanami di daerah paling rawan. Bibit seribuan tersebut ternyata tidak mencukupi kerusakan mangrove yang mecapai puluhan hektare.

Namun upaya penyelamatan hutan bakau tidak hanya datang dari kelompok masyarakat itu saja, dinas lingkungan hidup setempat pun memberikan bantuan bibit mangrove sebanyak 20 ribu batang untuk mendukung rehabilitas dan konservasi hutan yang sudah rusak.

"Dari tahun 2014 hingga 2017 sudah tertanam sebanyak 22 ribu lebih pohon mangrove," kata pria dua anak ini.

Selang setahunan, disaat pohon yang ditanam mulai menghiasi hutan bakau, sembari terus menyuarakan konservasi kepada masyarakat untuk ikut dalam misi penyelamatan mangrove. Ia tidak menyangka ada segerombolan anak muda datang berkunjung untuk berfoto-foto.

"Pas kami membuat pondok untuk tempat beristirahat, datang beberapa orang anak muda yang membawa handphone untuk berfoto-foto di dalam hutan bakau. Padahal papan (akses masuk hutan) kami buat untuk melansir bibit yang akan ditanam di dalam hutan.

Hasil foto-foto mereka dimasukkan ke media sosial facebook," ucapnya. Hasil unggahan pegunjung itu mendatangkan daya tarik wisatawan lain untuk datang ke rumah alam bakau di akhir pekan berikutnya. Lantaran jumlah pengunjung yang datang terus bertambah setiap minggunya, Sutiono dan rekan-rekan pencinta alam lainnya mendapatkan ide untuk memperbesar jalan yang dibuat berupa jembatan dari papan.

"Track (jalur) untuk masuk ke hutan mangrove terus kami tambah. Bersyukurnya masyarakat sangat mendukung ide tersebut, hingga dibangunlah jembatan untuk masuk hutan bakau secara swadaya dan gotong royong. Maka terjadilah jalan sepanjang 450 meter sebagai tahap pertama," ucapnya.

Menjadi Destinasi Wisata Siang itu beberapa pemuda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menyambut puluhan pengunjung dengan muka ramah di Ekowisata Rumah Alam Bakau. Dua orang di antaranya mengarahkan kendaraan yang hendak parkir dan lainnya menunjukkan tempat pembelian karcis masuk. Dari luar berdiri kokoh papan nama yang bertuliskan "Selamat Datang di Ekowisata Rumah Alam Bakau".

Saat ini hutan bakau yang dirawat Sutiono dan rekan-rekan pecinta alam lainnya sudah menjadi ekowisata mangrove yang dikunjungi sebanyak seribuan orang setiap bulannya. Semuanya tidak serta merta dapat terwujud kalau bukan berkat dukungan masyarakat setempat yang aktif di berbagai kelompok dan komunitas.

Untuk dapat menikmati lebatnya hutan bakau di track ekowisata mangrove Hutan Alam Bakau, Rawa Mekar Jaya ini pengunjung dapat menelusuri jalan yang terbuat dari papan untuk menembus hutan bakau. Wisatawan dapat melihat bakau yang masih kecil, baru ditanam hingga yang sudah besar dan tinggi-tinggi dengan akar-akar yang muncul dari air payau yang bentuknya sangat unik dan menarik dipandang.

Biaya masuk pun tidaklah mahal, pengunjung hanya mengeluarkan uang sebesar Rp4.000 saja tanpa adanya batasan waktu di dalam hutan bakau, ditambah dengan retribusi parkir Rp2.000 untuk kendaraan roda dua, dan Rp5.000 untuk roda empat.

Akses untuk menuju objek ini sudah bisa ditempuh dengan jalur darat, yang memakan waktu sekitar tiga jam-an dari Kota Pekanbaru, dan dua jam dari ibu kota Kabupaten Siak.

"Pemungutan uang masuk ke hutan bakau baru dilakukan sejak Januari 2018, sebelumnya (2015-2017) tidak ada biaya karcis masuk alias gratis," kata pemuda yang juga aktif di masyarakat peduli api Kecamatan Sungai Apit ini.

Sebab ia dan rekan-rekan tidak kepikiran untuk menjadikan hutan bakau yang niatnya hanya untuk pembenahan dan konservasi menjadi objek wisata seperti saat ini. Menurutnya pengunjung akan berpikir dua kali untuk datang ke daerahnya dengan kondisi infrastruktur yang belum bagus, sementara nilai jualnya pun belum ada.

"Jalan menuju desa ini belum bagus ditambah lagi cukup jauh. Jadi kami berpikir potensi apa yang bisa diangkat. Dari segi lain tidak ada kami lihat, namun adanya hutan bakau dengan konsep konservasi, orang-orang bakal ada keinginan untuk datang kemari," sebutnya.

Bermula dari wacana-wacana dan keinginan yang demikianlah ia dan rekan-rekan membentuk sebuah kelompok yang masih berupa kelompok tani Rawa Lestari yang berjumlah masih belasan orang. Pada 2016 nama Kelompok Tani Rawa Lestari pun diubah menjadi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Rumah Alam Bakau, setelah diresmikan Wakil Bupati Siak Alfedri menjadi ekowisata pada April 2016 dengan jalan sepanjang 450 meter.

Dengan tujuan untuk menunjung ekowisata yang ada di Kabupaten Siak, Riau. Kedatangan orang nomor dua di kabupaten Siak itu pun dimanfaatkannya untuk menjadikan kegiatan konservasinya menjadi destinasi wisata. Menurutnya mewujudkan hutan bakau menjadi objek wisata punya tantangan besar, karena tidak adanya dana untuk membangun infrastruktur, fasilitas lainnya seperti toilet.

"Saat Wabup datang semuanya masih kosong, belum ada fasilitas apapun, kecuali pondok untuk anggota kelompok beristirahat. Dari situlah baru kita carikan anggota dari kelompok yang aktif seperti karang taruna, masyarakat peduli api (MPA) komunitas dan lainnya," sebutnya.

Adanya bantuan dari Badan Operasi Bersama (BOB) PT BSP - Pertamina Hulu untuk memperpanjang track menjadi 1.250 meter dan membuatkan fasilitas toilet semakin membantu Pokdarwis dalam mewujudkan ekowisata mangrove.

Hingga saat ini anggota Pokdarwis Rumah Alam Bakau sudah berjumlah 25 orang yang berasal dari beberapa kelompok dan komunitas untuk terus menyuarakan dan menjaga hutan mangrove dari kerusakan. Ekowisata mangrove ini tidak hanya menjadi tempat wisata, namun pengelola juga sering menerima kunjungan dari beberapa sekolah, perguruan tinggi untuk memperoleh edukasi terkait hutan mangrove.[]


Editor. Islahuddin

Sumber. ANTARA

 

Rekomendasi


 

 

News Feed

Kemendagri Prediksi Partisipasi Pemilih di Pilkada 2018 Capai 85 Persen

Rabu, 21 Februari 2018 04:05 WIB

Kemendagri memprediksi sekitar 85 persen dari total jumlah pemilih akan ikut berpartisipasi di Pilkada Serentak 2018 nanti.


Umat Islam Yakin Habib Rizieq Pulang ke Indonesia Pagi Ini

Rabu, 21 Februari 2018 04:02 WIB

Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif mengatakan bahwa nantinya Habib Rizieq akan disambut oleh tim penjemputan.


Tiang Gawang Dua Kali Selamatkan Gawang Barcelona dari Kebobolan

Rabu, 21 Februari 2018 03:53 WIB

Dua tendangan keras yang dilepaskan Willian belum mampu memberikan keunggulan untuk Chelsea.


Pasca Longsor Di Puncak, Jasa Marga Kembali Buka Tol Jagorawi Arah Puncak

Rabu, 21 Februari 2018 03:35 WIB

Jasa Marga kembali membuka jalan Tol Jagorawi.


Dua Pesawat dari Jeddah Tiba di Indonesia Rabu Pagi, Habib Rizieq Shihab?

Rabu, 21 Februari 2018 03:27 WIB

Berdasarkan informasi bahwa Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) telah lepas landas dari Bandara Jeddah pada pukul 19.00 waktu Arab Saudi.


Kacamata ini akan Menjadi Ikon Baru Apple, Seperti Apa Wujudnya?

Rabu, 21 Februari 2018 03:25 WIB

Kacamata AR ini akan membuat Apple sebagai yang terdepan dalam menghadirkan gadget inovatif.


5300 Rohingya Terjebak di Perbatasan Myanmar dan Bangladesh

Rabu, 21 Februari 2018 03:05 WIB

Perwakilan Myanmar dan Bangladesh membahas nasib sekitar 5.300 Muslim Rohingya yang terjebak di tanah tak bertuan di perbatasan kedua negara


Ratusan Umat Islam Masih Tunggu Kabar Kepulangan Habib Rizieq di Masjid Cengkareng

Rabu, 21 Februari 2018 03:03 WIB

Ratusan umat Islam yang tergabung dalam alumni 212 telah berkumpul di Masjid Jami Baitul Amal, Jalan Menceng, Cengkareng, Jakarta Barat.


Makna Angka 15 Bagi Partai Aceh

Rabu, 21 Februari 2018 02:35 WIB

Partai Aceh kembali menjadi peserta partai politik pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.


Sebagian Umat Islam Sudah Berada di Bandara Soetta untuk Cek Keberangkatan Habib Rizieq

Rabu, 21 Februari 2018 02:33 WIB

K?etua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif meyakini saat ini Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab tengah berada di pesawat menuju Indonesia


Mengintip Cara Kerja Satgasus Polri Ungkap Penyelundup Sabu di Anambas

Rabu, 21 Februari 2018 02:20 WIB

Ternyata polisi bisa mabuk udara juga yah...


Evan Sanders Sesalkan Artis-artis Terjerat Kasus Narkoba

Rabu, 21 Februari 2018 02:10 WIB

"Kita butuh anak muda yang fit," kata Evan.


KPK Klaim Bakal Tuntaskan Kasus Pencucian Uang Wawan

Rabu, 21 Februari 2018 02:05 WIB

KPK mengklaim bahwa kini kasus dugaan TPPU yang menjerat Tubagus Chaeri Wardhana hampir dirampungkan pemberkasannya.


Suami Okie Agustina Beri Alasan Jawab Chating Terduga Pelakor

Rabu, 21 Februari 2018 02:00 WIB

Bisa jadi hanya fans.


Pasukan Pro-Rezim Suriah Masuk Afrin, Bantu Milisi Kurdi

Rabu, 21 Februari 2018 01:40 WIB

Pejuang pro-pemerintah Suriah "Pasukan Populer" masuk wilayah Afrin yang dikuasai pemberontak untuk menghadapi serangan militer Turki.