Menapaki Jejak Penjajahan Belanda di Sawahlunto

akurat logo
Lina Citra Rasmi
Rabu, 14 Februari 2018 14:05 WIB
Share
 
Menapaki Jejak Penjajahan Belanda di Sawahlunto
Sawahlunto. TALKYPIC.COM

AKURAT.CO Kota Sawahlunto adalah sebuah kota yang terletak di 95 kilometer timur laut Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Kota ini diapit tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Sijunjung.

Kota ini memiliki luas 273,45 km persegi yang terdiri atas empat kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 54 ribu jiwa.

Untuk mencapai kota ini, kita bisa menggunakan mobil rental dengan merogoh kocek Rp500 ribu atau menggunakan bus dengan biaya Rp35 ribu dengan waktu tempuh dari Kota Padang sekitar 2,5 hingga 3 jam.

Sawahlunto dahulu hanya merupakan sebuah lembah subur yang dijadikan sawah oleh warga setempat. Lembah tersebut dibelah oleh aliran Sungai Lunto.

Nama Sawahlunto sendiri diambil dari kata "sawah" dan Sungai "Lunto". Lembah Sungai Lunto yang subur itu kemudian beralih fungsi menjadi daerah pertambangan batu bara pada zaman kolonial Belanda.

Adalah Willem Hendrik de Greve, ahli geologi yang ditugasi pemerintah Hindia Belanda untuk menyelidiki keberadaan batu bara di Sawahlunto.

Putra dari 'negeri raja', Franeker Belanda, itu adalah kontributor utama yang menguak 'emas hitam'--kekayaan sumber daya energi yang tersimpan di perut bumi Sawahlunto.

Penugasan Willem Hendrik de Greve itu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 26 Mei 1967 untuk menyelidiki batu bara di Ombilin.

Pada tahun 1868, De Greve menemukan kandungan batu bara di Sungai Ombilin, yang akhirnya meninggal dunia karena terseret air saat menyusuri alternatif air untuk mengangkut batu bara hasil temuannya pada tanggal 22 Oktober 1872 pada usia 30 tahun.

Setelah diketahui kandungan sumber daya alam dan potensi ekonominya, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi.

Pada akhirnya dimulai pula pembangunan infrastruktur tambang dan pendukungnya di Sawahlunto. Pembangunan infrastruktur tersebut pada tahun 1883 hingga 1894.

Aktivitas pertambangan di Sawahlunto sendiri sejak 1892 dengan produksi batu bara sebanyak sebanyak 48.000 ton.

Tambang batu bara Ombilin itu ditutup oleh kolonial Belanda pada tahun 1923 karena ada rembesan air dari Sungai Batang Lunto dan tingginya gas metan saat itu, kata Nurna, pemandu Museum Sawahlunto.

Manusia Rantai Untuk mendukung aktivitas pertambangan di Sawahlunto, pemerintah Hindia Belanda menggunakan para narapidana sebagai tenaga kerja yang diambil dari penjara-penjara yang ada di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Medan (Sumatera Utara).

Para narapidana ini diangkut dengan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, dan diturunkan di Pelabuhan Emmahaven--sekarang bernama Pelabuhan Teluk Bayur, yang dibangun kolonial Belanda antara 1888 dan 1893.

Mereka kemudian diangkut dengan kereta api ke Sawahlunto atau pusat aktivitas pertambangan Sawahlunto.

Nurna, pemandu Museum Sawahlunto mengatakan bahwa para narapidana yang dipekerjakan di pertambangan Sawahlunto ini umumnya adalah narapidana yang dinilai pemerintah Kolonial Belanda sebagai pembangkang.

Sebagian di antara mereka adalah tawanan politik Belanda, ada pula yang berasal dari kriminal, para penjahat kelas kakap atau yang dianggap sebagai penjahat.

Kalau tawanan Belanda itu adalah orang-orang yang melawan Belanda. Mereka ingin mempertahankan tanah nenek moyang mereka yang dirampas Belanda. Mereka adalah orang-orang yang tidak mau menjadi 'kacung' Belanda, katanya.

Belanda mengganggap mereka adalah teroris, merusak wibawa dan kekuasaan Belanda--suatu ketakutan yang luar biasa yang hinggap di kalangan tuan-tuan berkulit putih kala itu.

"Saya tidak tahu persis, jumlah tahanan yang dipekerjakan di pertambangan Sawahlunto, tetapi mendekati 2.000 orang. Mereka tidak berasal dari tahanan yang jahat, tetapi umumnya adalah pembangkang pemerintah Hindia Belanda," katanya.

Di Sawahlunto inilah para narapidana tersebut untuk membuat terowongan tambang. Pekerja paksa ini dikenal juga dengan sebutan orang rantai karena dalam kegiatan penambangannya kaki mereka tetap dirantai.

"Saat mereka bekerja, hanya kaki yang dirantai. Akan tetapi, setelah bekerja dan kembali ke tahanan, kaki dan tangan semuanya dirantai," kata Sudarsono, pemandu lubang tambang Mbah Soero.

Para pekerja ini menempati sebuah ruang bawah tanah yang dibangun Belanda. Pada dinding ruangan ini, baik di dalam maupun luar, dipasang pecahan kaca sehingga para penghuni tidak bisa sandar, kata Sudarsono.

Siksaan berupa cambukan sering kali mereka terima dari mandor, makanan yang diberikan pun terbatas. Oleh karena itu, lanjut dia, banyak orang rantai yang meninggal selama berlangsungnya kerja paksa itu.

"Banyak pekerja yang meninggal di dalam lubang tambang. Ketika kami membuka bekas tambang ini pada tahun 2007, kami menemukan banyak sekali tulang belulang manusia," ungkapnya.

Hilangkan Identitas Nurna menambahkan bahwa semua narapidana yang didatangkan dari Pulau Jawa setelah berada di pertambangan Sawahlunto, tidak lagi menggunakan nama asli mereka.

Semua narapidana diberi tanda cap berupa angka seperti 2532 atau angka 7 di bagian tangan sebagai nama panggilan sehari-hari.

"Jadi, mandor tidak memanggil nama asli, tetapi menyebut nomor atau angka yang tertera di tangan para napi sehingga di antara mereka sendiri tidak saling mengenal," katanya.

Di samping itu, keluarga atau kerabat sulit mencari para pekerja paksa di pertambangan batu bara di Sawahlunto ini karena tidak ada identitas.

Itulah yang menyebabkan banyak keluarga korban yang datang untuk mencari makam leluhur mereka di tanah Sawahlunto tidak bisa menemukannya karena di tempat-tempat pemakaman narapidana yang mati hanya tertulis angka.

Kini, Kota Sawahlunto yang dahulunya hanya sebuah kampung kecil berpenduduk 500 orang yang dikelilingi hutan belantara, bukit-bukit yang saling menyambung dengan dataran rendah yang sempit menjadi sebuah destinasi wisata baru sejak 2008.

Destinasi bagi semua wisatawan dari berbagai mancanegara, terutama generasi muda bangsa ini yang tidak mengetahui drama perbudakan di negeri sendiri.[]


Editor. Islahuddin

Sumber. Antara

 

Rekomendasi

 

 

News Feed

Dijadikan Tersangka Dugaan Korupsi, Kadis PU Papua Siap Diproses Hukum

Senin, 21 Mei 2018 17:45 WIB

Kadis PU Provinsi Papua, Djuli Mambaya, jadi tersangka korupsi pembangunan Terminal Nabire tahun 2016 yang merugikan negara sebesar Rp 1,7 M


Menteri LHK dan KPK Bahas Konflik Lahan di Trenggalek dan Teluk Jambe

Senin, 21 Mei 2018 17:38 WIB

Sengekta tanah ini memang belakangan sempat mencuat hingga ke depan istana



DPR Minta Pemerintah Transparan Terkait Impor Beras

Senin, 21 Mei 2018 17:36 WIB

Bam Soesatyo sayangkan perbedaan data ketersediaan pangan antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan


Lulus dari Indonesian Idol, Bianca Jodie dan Marion Jola Kompak Tolak Tawaran Main Film

Senin, 21 Mei 2018 17:36 WIB

Keduanya kompak ingin fokus berkarier di dunia musik.


Angkatan Udara Kerajaan Saudi Berhasil Cegat Rudal yang Diluncurkan Milisi Houthi

Senin, 21 Mei 2018 17:36 WIB

Iran dinilai sudah melanggar Resolusi 2216 dan 2231 yang dikeluarkan PBB.


Jangan Lewatkan Konsumsi Alpukat Ya Busui, Ini Manfaatnya

Senin, 21 Mei 2018 17:35 WIB

Bayi Anda sangat sehat dari kebiasaan ini.


TeenSafe, Aplikasi Pemantau Ponsel Berpotensi Langgar Privasi

Senin, 21 Mei 2018 17:35 WIB

Peneliti keamanan yang berbasis di Inggris, Robert Wiggins, menemukan pelanggaran data.


Ormas RKIH Targetkan Restoran dan Dispenda Terkoneksi Sistem IT

Senin, 21 Mei 2018 17:26 WIB

RKIH sangat mendukung pengembangan ekonomi berbasis IT.


Southgate: Kemenangan Liverpool di Liga Champions Positif untuk Inggris di Piala Dunia

Senin, 21 Mei 2018 17:23 WIB

"Pemain seperti Jordan Henderson, Alex Oxlade-Chamberlain, Adam Lallana, dan Trent Alexander-Arnold akan mendapat pengalaman penting."


Tuding Mantan Teroris Sebagai Intel, Rizieq Shihab Bakal Dipolisikan

Senin, 21 Mei 2018 17:22 WIB

Sofyan meminta FPI terutama Rizieq segera menarik pernyataan kalau dirinya bukanlah intel Kepolisian


29 Kabupaten dan Kota di Papua Diminta Perketat Pengawasan Pendatang

Senin, 21 Mei 2018 17:18 WIB

Kapolda menegaskan wajib lapor untuk mendeteksi adanya potensi kerawanan.


Sutriyadi Terpilih sebagai Formatur Ketum HMI Cabang Malang 2018-2019

Senin, 21 Mei 2018 17:15 WIB

"Semoga amanah dan tetap dalam semangat visi dan misi yang ada dengan menakar politik nilai untuk masa depan"


Gregoria Bawa Indonesia Berbalik Ungguli Malaysia

Senin, 21 Mei 2018 17:12 WIB

Fitriani gagal menyumbang angka di partai perdana.